Mesin Pencari

Custom Search

Ads

Saturday, July 21, 2012

Fort Rotterdam Makassar


Salah satu obyek wisata yang terkenal di Makassar selain melihat benteng serta museum Lagaligo adalah menjenguk tempat pengasingan Pangeran Diponegoro setelah ditipu Belanda pada tahun 1930.



Fort Rotterdam 1923


Benteng Fort Rotterdam adalah benteng tua kolonial Belanda di Makassar, menghadap ke pelabuhan. Ini merupakan salah satu obyek wisata utama di Makassar. Benteng dibangun oleh Belanda saat mempertahankan diri sekitar tahun 1667 tetapi struktur pertama benteng dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Tunipalangga dengan bangunan sederhana berupa dinding yang terbuet dari tanah. Laksamana Cornelis Speelman sependapat pada tahun 1667 dan menamai benteng ini seperti nama kota kelahirannya, Rotterdam. Tidak lama kemudian benteng ini dibangun kembali dengan tinggi 6 meter dan tebal dinding 2 meter, yang di dalamnya terdapat perumahan Belanda dan gereja. Benteng ini menjadi pusat kekuasaan kolonial Belanda di Pulau Sulawesi. Fort Rotterdam memiliki fungsi sebagai benteng pertahanan Belanda sampai 1937. Pada 1970-an benteng ini dikembalikan dan di ganti namanya menjadi Fort (Benteng) Ujung Pandang, Benteng ini merupakan salah satu bangunan Belanda yang dipelihara dengan baik di Indonesia.

Fort Rotterdam 1924







Lokasi benteng tua ini hanya sekitar 2 km dari Pantai Losari. Kalau kamu masih bingung menemukannya, cari saja satu-satunya bangunan dengan arsitektur tua di daerah tersebut. Tembok Fort Rotterdam hitam berlumut dan menjulang tinggi hingga 5 meter.

Pertama kali menginjakkan kaki dalam kawasan Fort Rotterdam, kamu akan menemui halaman yang luas sekali. Kira-kira luas halamannya dua kali besarnya Museum Fatahilah di Jakarta. Benteng yang juga disebut Benteng Ujung Pandang ini sekarang menjadi Pusat Kebudayaan Makassar.
Fort Rotterdam 1924



Meski arsitektur benteng memiliki ciri khas bentang tahun 1600an, tapi sebetulnya dibangun tahun 1545. Raja Gowa ke X, Tunipallangga Ulaweng, adalah tokoh pembangunan Fort Rotterdam. Awalnya benteng terdiri dari tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Namun ketika berpindah tangan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke XIV, tembok benteng diganti dengan batu padas yang berwarna hitam keras.

Pada masa itu, Belanda menguasai area Banda dan Maluku. Mereka memutuskan untuk menaklukan Gowa agar armada dagang VOC bisa dengan mudah masuk dan merapat ke Sulawesi. Maka pada tahun 1666 pecahlah perang pertama antara raja Gowa yang berkuasa di dalam benteng dengan Belanda.

Fort Rotterdam 1930



Pasukan sewaan dari Maluku membantu Belanda menggempur benteng. Kekuasaan raja Gowa pun berakhir. Benteng porak poranda akibat perang. Kediaman raja pun hancur dibakar tentara musuh. Kekalahan ini lah yang memaksa raja Gowa menandatangani "Perjanjian Bongaya" pada 18 November 1667.

Gubernur Jenderal Belanda, Cornelis Speelman menetap dalam benteng kemudian membangun kembali dan menata bangunan. Arsitekturnya pun dibuat sesuai selera Belanda. Lima bastion yang mengelilingi benteng ditambah menjadi enam di sisi barat. Nama benteng pun diubah menjadi Fort Rotterdam. Rupanya Rotterdam adalah kota kelahiran Speelman (dari berbagai sumber) .

Benteng ini terdiri dari lima menara, empat menara berada di setiap sudutnya dan satu di pintu masuk utama. Di dalamnya terdapat tiga belas bangunan, sebelas dibuat oleh Belanda dan dua dibangun oleh Jepang. Bangunan tertua ini dibangun pada tahun 1686 dan laksamana menyetujui bagian benteng ini disebut rumah Speelman, meskipun ia tidak pernah benar-benar tinggal di rumah itu. Rumah itu digunakan oleh gubernur Belanda hingga pertengahan abad ke 19. Namun sekarang bangunan benteng ini menjadi sebuah museum,dan struktur lain digunakan sebagai tempat tidur bagi petugas, penjara atau gudang. Salah satu pemimpin perang Jawa (1825-1830), Pahlawan Nasional Indonesia Pangeran Diponegoro, dipenjarakan di sini selama 26 tahun sampai wafat pada tahun 1855.

Benteng ini buka setiap hari dari pukul 08:00 sampai jam 18:00. Tiket masuk gratis namun ada dana sumbangan sekitar, Rp. 10.000 namun untuk Museumnya hanya dibuka Selasa sampai Minggu di pagi hari dari jam 08:00 sampai 12:30 dengan tiket masuk sekitar Rp 7500

No comments:

AddMe - Search Engine Optimization