SEKILAS SH MINTARDJA
S.H. Mintardja atau Singgih Hadi Mintardja (26 Januari 1933 – 18 Januari 1999) adalah seorang pionir cerita silat dari Yogyakarta. Karyanya bernuansakan sejarah dan dunia persilatan di Tanah Jawa.
Kisah-kisah silat SH Mintardja digali dari sejarah kerajaan di Jawa. Karya Mintardja yang digandrungi, Api di Bukit Menoreh dan Nagasasra Sabuk Inten.
Ia adalah seorang penulis yang dikenal sebagai pionir dalam genre cerita silat dengan mengangkat dan mempopulerkan cerita silat di Indonesia.
SH Mintardja mulai menulis cerita silat pada tahun 1950-an, di mana pada saat itu cerita silat sedang mengalami masa keemasan di Indonesia.
Ia berhasil menciptakan tokoh-tokoh yang kuat dan menarik, serta menyajikan alur cerita yang penuh dengan intrik dan aksi. Salah satu karya terkenal dari SH Mintardja adalah Nagasasra Sabuk Inten.
Selain sebagai penulis cerita silat, SH Mintardja juga dikenal sebagai seorang seniman yang memiliki kecakapan dalam menggambar.
Mintardja pernah bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan, dan terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kisah-kisah Mintardja digali dari pelbagai sejarah kerajaan di Jawa. Salah satu karya Mintardja yang digandrungi, Api di Bukit Menoreh (1967). Dalam Majalah Tempo Edisi Desember 1980, bukit menoreh di Yogyakarta, dikenal lewat cerita Api Di Bukit Menoreh karangan S.H. Mintardja, sebagian besar penduduknya beragama Katolik. Semasa hidup SH Mintardja dalam tulisan-tulisannya hanya ingin menyampaikan pesan-pesan moral yang dilandasi dengan budaya Jawa. Dalam Koran Tempo Edisi 16 Agustus 2015, SH Mintardja, penulis yang semasa hidup bermukim di Yogyakarta. Ia juga menulis cerita-cerita lain yang tak kalah menarik, seperti Istana yang Suram, Pelangi di Langit Singasari, Suramnya Bayang-bayang, dan lainnya.
Dalam kisah yang diangkat dari negeri sendiri, Mintardja menyingkap pergulatan di seputar perebutan kekuasaan di Tanah Jawa.
Ia meninggal di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Meskipun SH Mintardja telah tiada, warisan sastranya tetap hidup dan terus dikenang oleh para penggemar karya-karyanya.
Dikutip dari Antara, salah satu karya Mintardja mendapat penghargaan dalam Borobudur Writers and Cultural Festival 2012 berupa patung dengan bertuliskan gelar Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 Singgih Hadi Mintardja (1933-1999).
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Kisah-kisah silat SH Mintardja digali dari sejarah kerajaan di Jawa. Karya Mintardja yang digandrungi, Api di Bukit Menoreh dan Nagasasra Sabuk Inten.
Ia adalah seorang penulis yang dikenal sebagai pionir dalam genre cerita silat dengan mengangkat dan mempopulerkan cerita silat di Indonesia.
SH Mintardja mulai menulis cerita silat pada tahun 1950-an, di mana pada saat itu cerita silat sedang mengalami masa keemasan di Indonesia.
Ia berhasil menciptakan tokoh-tokoh yang kuat dan menarik, serta menyajikan alur cerita yang penuh dengan intrik dan aksi. Salah satu karya terkenal dari SH Mintardja adalah Nagasasra Sabuk Inten.
Selain sebagai penulis cerita silat, SH Mintardja juga dikenal sebagai seorang seniman yang memiliki kecakapan dalam menggambar.
Mintardja pernah bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan, dan terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kisah-kisah Mintardja digali dari pelbagai sejarah kerajaan di Jawa. Salah satu karya Mintardja yang digandrungi, Api di Bukit Menoreh (1967). Dalam Majalah Tempo Edisi Desember 1980, bukit menoreh di Yogyakarta, dikenal lewat cerita Api Di Bukit Menoreh karangan S.H. Mintardja, sebagian besar penduduknya beragama Katolik. Semasa hidup SH Mintardja dalam tulisan-tulisannya hanya ingin menyampaikan pesan-pesan moral yang dilandasi dengan budaya Jawa. Dalam Koran Tempo Edisi 16 Agustus 2015, SH Mintardja, penulis yang semasa hidup bermukim di Yogyakarta. Ia juga menulis cerita-cerita lain yang tak kalah menarik, seperti Istana yang Suram, Pelangi di Langit Singasari, Suramnya Bayang-bayang, dan lainnya.
Dalam kisah yang diangkat dari negeri sendiri, Mintardja menyingkap pergulatan di seputar perebutan kekuasaan di Tanah Jawa.
Ia meninggal di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Meskipun SH Mintardja telah tiada, warisan sastranya tetap hidup dan terus dikenang oleh para penggemar karya-karyanya.
Dikutip dari Antara, salah satu karya Mintardja mendapat penghargaan dalam Borobudur Writers and Cultural Festival 2012 berupa patung dengan bertuliskan gelar Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 Singgih Hadi Mintardja (1933-1999).



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar